Empat (4) Ciri Kebahagiaan Hidup


Di dalam sebuah hadits dinyatakan bahwa Rasulullah saw, menyematkan empat tanda orang yang berbahagia dalam hidupnya, yakni:

"Empat ciri kebahagiaan seseorang, yaitu: apabila memiliki istri/suami (pasangannya) adalah orang yang baik (saleh/salehah), mempunyai keturunan yang baik (saleh/salehah), perkumpulannya dengan orang orang saleh/salehah dan rizkinya diperoleh dari daerahnya sendiri".

Empat hal di atas adalah pilar utama untuk mendapatkan kebahagiaan hidup dunia dan akhirat, berikut penjelasan singkatnya:
Pertama: "Memiliki Pasangan Yang Saleh/Salehah"
Seseorang akan merasa damai apabila ia mempunyai pasangan yang setia, selalu menjaga kehormatannya dari orang lain yang bukan muhrimnya. Dengan akhlak mulia ini, suami/istri akan merasa tenang dan nyaman ketika berada di luar rumah. Dua pola ini yaitu si isteri yang menjaga kehormatannya di rumah akan memperoleh pahala sedangkan si suami yang bekerja mencari nafkah akan selalu merindukan rumah. Gambaran semacam ini digambarkan oleh keluarga Rasulullah SAW, seperti dalam sabdanya "Rumahku adalah surgaku". Jadi keduanya mempunyai nilai pahala yang sama, meski bentuk pengabdiannya berbeda. Karena sesungguhnya ibadah di dalam Islam itu banyak bentuknya.
Sepakat atau tidak, bahwa banyak rumah tangga yang berantakan disebabkan dari dua pola ini tidak tercapai secara maksimal, suami mencurigai isterinya dan isteri-pun cemburu dengan perbuatan suaminya. Banyak orang yang ketika keluar rumah tidak merindukan pulang lagi di tengah-tengah keluarganya yang serba ‘panas’ dan banyak pula keluarga yang tidak begitu menginginkan suaminya (kepala rumah tangganya) untuk hadir dan ikut serta di dalam rumah kecuali penghasilannya saja. Di sini menguatkan pendapat, bahwa kebahagiaan bukan semata mata dari hartanya saja, akan tetapi kebahagiaan adalah sebuah jalan untuk mengarungi kehidupan dengan berbagai cara dan modelnya.
Kedua: "Mempunyai Keturunan Yang Saleh/Salehah".
Anak atau keturunan mempunyai peranan penting dalam menciptakan kebahagiaan. Secara tidak langsung kita melihat anak kita bagaikan melihat kreasi kita, apabila kreasi itu menarik dan sesuai dengan yang diinginkan maka melihatnya adalah kebahagiaan tersendiri. Bagaimana tidak seperti kreasi, bukankah anak adalah awalnya benda yang dititipkan, atas kreasi orang tuanya anak dicetak sesuai keinginan orang tuanya. Ada sebagian orang tua yang menginginkan agar anaknya menjadi ahli dalam percaturan politik maka ia dikader sejak dini untuk menjadi politisi yang ber-etika, adakalanya orang tua yang mengingikan keturunannya kelak menjadi seorang atlit maka sejak dini sudah diarahkannya dan begitulah seterusnya. Pendek kata setiap anak adalah kreasi orang tuanya. Di dalam hadis dikatakan:
"Setiap anak dilahirkan secara bersih, sehingga orang tuanya yang menjadikan dia yahudi, nasrani atau majusi".
Ketiga: "Berkumpulnya Dengan Orang Saleh/Salehah".
Perkumpulan dan pertemanan sangat mempengaruhi style kehidupan yang ia pilih, orang yang senantiasa berkumpul dengan orang yang salih maka kesehariannya akan menginginkan untuk berbuat baik seperti perkumpulan mereka. Begitu sebaliknya biasanya seseorang yang berkumpul dalam komunitas orang jahat maka sedikit demi sedikit akan ikut bergeser kepada ideologi yang jahat pula. Pertemanan dengan orang yang baik, selalu mengajarkan kebaikan yang muaranya adalah kebahagiaan, karena itu sangat bisa dipahami jika Rasulullah SAW menggambarkan hal demikian.

Keempat: "Rizkinya Diperoleh Didaerahnya Sendiri".
Ini membuktikan bahwa nasionalisme dan cinta tanah air sangat di anjurkan didalam Islam, diharapkan agar setiap penduduk mempunyai kepedulian untuk membangun masyarakatnya sendiri. Banyak masyarakat kita yang berbondong bondong pergi ke negara orang lain hanya semata mata membawa misi untuk mencari harta. Terlepas apalah itu alasannya, yang pasti hal itu bukanlah sebuah kebahagiaan karena pada hakekatnya ia disana sangat menderita karena jauh dari keluarga tercinta.